Tuesday, August 15, 2017

Patung Macan Simo Bukan untuk Ditertawakan

Simo Sendiko - Ramainya pemberitaan di media tentang patung - patung macan Simo membuat kami risih. Keberadaan patung-patung macan di wilayah Kecamatan Simo, bagi kami (penduduk kota Simo) bukanlah sebagai bentuk lucu-lucuan semata, namun lebih dari itu semua, patung-patung macan di wilayah kami, dengan segala kekurangannya, memiliki arti penting sebagai perlambang sejarah, identitas budaya lokal, dan merupakan kebanggan masyarakat Simo, yang tidak banyak orang tau.

Menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan umat manusia secara Universal, yakni 1) bahasa, 2) sistem mata pencaharian hidup, 3) sistem pengetahuan, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, 6) sistem religi, dan 7) kesenian. 

Sedangkan jika dilihat dari wujudnya, hasil kebudayaan manusia dapat dibagi menjadi dua, yakni Tangible cultural heritage (warisan budaya berbentuk benda) dan Intangible cultural heritage (Warisan budaya tak berbentuk benda). Dari dua pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa beberapa patung macan yang ada di wilayah Kecamatan Simo, merupakan salah satu kebudayaan universal dari unsur kesenian yang berbentuk benda (tangible cultural heritage).

Selayaknya hasil kebudayaan umat manusia pada umumnya, patung-patung macan di wilayah Kecamatan Simo memiliki nilai dan arti penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan di sekitarnya (dalam hal ini, masyarakat Simo). Selain itu, patung macan yang tersebar dibeberapa wilayah Kecamatan Simo yang jgua merupakan perlambang sejarah cerita asal usul kecamatan Simo, dimana dalam salah satu versi sejarah lokal, nama simo bermula dari sejarah demak dan pengging. Yang mana, dikisahkan saat Demak dibawah Sultan Fatah mempunyai pertentangan dengan Ki Ageng Pengging. Demak sebagai kerajaan Islam yang didukung oleh wali songo berseberangan dengan Ki Ageng Pengging yang merupakan anak murid dari Syekh Siti Jenar. Walisongo mengutus sunan kudus untuk pergi ke pengging dengan maksud mengajak ki ageng pengging agar mau bergabung dengan demak. di dalam perjalanan ke pengging itulah rombongan sunan kudus bermalam di sebuah hutan di sebelah utara Kali Cemara. Ketika bermalam itu Sunan kudus memukul pusaka berupa gong yang namanya Kyai SIMA, yang bunyinya mirip dengan auman harimau (simo).

Mendengar suara auman harimau itu, kemudian penduduk sekitar beramai-ramai menuju ke hutan dengan maksud menangkap harimau tersebut. Bukan harimau yang ditemui namun Sunan Kudus dan rombongan yang mereka jumpai. Ketika ditanya maksud kedatangan mereka ke tengah hutan, penduduk menjawab bahwa tadi ada suara harimau sehingga mereka bermaksud untuk membunuhnya. Kemudian oleh sunan kudus dijawab bahwa tidak ada harimau dan mereka disuruh kembali ke rumah dan oleh sunan kudus daerah itu kemudian dinamakan Simo

Sedangkan dalam versi lain, toponim (nama asal usul) "sima" dalam bahasa jawa baru, berarti macan atau harimau. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno "Sima" berarti "tanah perdikan" atau "tanah yang dibebaskan dari pajak".

Beberapa versi sejarah lokal tentang asal usul nama wilayah kecamatan Simo ini, memang masih perlu diteliti lebih lanjut dan Histiriografinya sedang dalam proses pengerjaan oleh tim Simo Sendiko. Namun demikian, satu hal yang jelas adalah bahwa patung-patung macan yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan Simo, merupakan icon kecamatan Simo, yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Melalui tulisan ini, kami hendak meluruskan pemberitaan tentang patung-patung macan yang ada di wilayah Kecamatan Simo, yang oleh beberapa pihak dianggap "Lucu". Hal ini secara tidak langsung telah mendeskriditkan arti penting keberadaan beberapa patung macan dan sekaligus telah melukai hati masyarakat Simo (Dewi Lusmawati)

Simo Sendiko

Author & Editor

Simo Sendiko adalah gerakan. Usaha untuk mengajak semua pihak untuk ambil bagian dalam kegiatan kolaboratif pada berbagai aspek potensial yang terdapat didalam wilayah kecamatan Simo.

1 komentar:

  1. Simbol yang dijadikan bahan banyolan itu tidak lucu. Oleh sejumlah media itu dianggap lelucon, tapi tidak bagi kami. Memberikan saran itu boleh, tapi harus dengan cara yang santun. Bagaimana jika dianggap menyakitkan bagi yang lain.

    ReplyDelete