Thursday, November 2, 2017

Training Sensitifitas Difabel bagi Stakeholder

Simo Sendiko - Pada hari kamis, 2 November 2017 yang lalu, Simo Sendiko bersama Nadi Dinari, Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB) dan Kantor Kecamatan Simo, menyelenggarakan Training Sensitifitas Difabel bagi Stakeholder. Acara ini diikuti oleh sebanyak 54 peserta dari berbagai background dengan 2 pembicara yakni Bp. Edy Supriyanto S.E dari Sehati Sukoharjo dan Ibu Titik Isnaeni dari PAUD Inklusi Tersenyum Kecamatan Musuk dan dimoderatori oleh Dewi Lusmawati S.Hum. Dengan dibuka dan disambut oleh Bp. Sri Hanung Mahendra selaku camat simo yang didampingi muspika dari koramil dan polsek, acara ini dimulai pukul 09.15 dan berakhir pukul 11.35 WIB. 


Melalui Bp. Edy Supriyanto S.E peserta training belajar tentang konsep Disabilitas yakni adanya hambatan fungsi tubuh dan hambatan lingkungan, yang menyebabkan penyandangnya tidak dapat bersosialisasi secara setara. Adanya stigma dalam masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak dapat hidup mandiri, mengakibatkan munculnya pemikiran untuk menciptakan solusi berupa akomodasi beralasan, guna menunjang kehidupan para penyandang disabilitas. Akomodasi beralasan berupa penyesuaian rancang bangun gedung, bangunan, sarana transportasi serta berbagai aspek penunjang kehidupan lain, berguna untuk mendukung upaya inklusi atau pembauran kaum disable dalam kehidupan sosial. Inklusi kaum disable membutuhkan akses dan partisipasi masyarakat pemegang mandat inklusi, atau dengan kata lain, membutuhkan tanggung jawab masyarakat secara bersama. Untuk melindungi hak kaum disable dan mendorong masyarakat sebagai pemegang mandat inklusi, pemerintah telah menerbitkan beberapa undang-undang dan peraturan terkait hal tersebut, namun sayangnya hal inibkurang disosialisasikan pada masyarakat, sehingga dalam kesempatan kemarin, Bp. Edy Supriyanto S.E juga melakukan sosialisasi hak dan kewajiban kaum disable. Beberapa contohnya antara lain UU no.08 tahun 2016 yang berisi 25 hak penyandang disablititas, yang salah satunya adalah hak untuk mencari pekerjaan. UU no.06 tahun 2004 tentang pembangunan desantralisasi desa, juga memuat beberapa hak dan kewajiban penyandang disabilitas dalam pembangunan, serta Permendes no.19 tahun 2017 tentang penggunaan dana desa, diharapkan para penyandang disabilitas dapat terlibat dan berperan aktif dalam upaya pembangunan. Melalui ibu Titik Isnaeni, para peserta training belajar tentang upaya pembangunan yang berkesinambungan yang melibatkan penyandang disabilitas. Ibu Titik Isnaeni adalah tokoh pendiri sekolah PAUD yang menerima peserta didik dari anak berkebutuhan khusus, pengalaman beliau dalam mendidik siswa siswinya adalah bertujuan guna mempersiapkan anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari estafet pembangunan berkelanjutan, bukan menjadi beban dalam upaya pembangunan.
Dalam acara ini, juga dibahas rencana tindak lanjut beberapa komunitas terkait dan masyarakat tentang apa yang akan dilakukan kedepannya untuk meningkatkan kesetaraan para penyandang disabilitas di kecamatan Simo, dengan melalui diskusi, maka diambil keputusan bersama untuk mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali antara para penyandang disabilitas, komunitas dan stakeholder, serta diharapkan pihak kantor kecamatan Simo, untuk dapat memfasilitasi dan menjembatani pertemuan tersebut. (Dewi Lusmawati)

Simo Sendiko

Author & Editor

Simo Sendiko adalah gerakan. Usaha untuk mengajak semua pihak untuk ambil bagian dalam kegiatan kolaboratif pada berbagai aspek potensial yang terdapat didalam wilayah kecamatan Simo.

1 komentar:

  1. Kepedulian terhadap difabel memang selayaknya dibuka sehingga masyarakat luas lebih memahami dan bisa memberikan sumbangsih bagi mereka. Terlebih seringkali keberadaan dan keadaan cenderung terlupakan. Difabel memiliki kesempatan yang sama baik dalam pendidikan dan pekerjaan sehingga mereka juga mampu hidup mandiri di tengah - tengah masyarakat.

    ReplyDelete